Kamis, 24 Januari 2013

Misteri 7 lapis langit


“(Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, Engkau tidak melihat kepada ciptaan  al-Rahman sedikit pun ketidakseimbangan.” (Qs. Al-Mulk [67]:3)

Misteri Tuhan yang  hingga kini belum terungkap adalah masalah tujuh lapis langit. Sejak dahulu hingga sekarang, persoalan ini belum dapat jawabanya dan masih menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Apakah ia bintang-bintang, planet-planet, atmosfir atau memang langit yang jumlahnya memang tujuh? Semuan ya masih menjadi misteri, yang sampai kapanpuntidak akan pernah terpecahkan karena keterbatasan ilmu manusia.

Langit yang alam bahasa arab diterjemahkan dengan al-sama’ adalah sebuah istilah yang menunjukkan pada “segala sesuatu yang ada di atas kita”. Keadaan diatas kita  ini diartikan oleh Ibn Sidah sebagai angkasa luas yang berisi benda-benda langit dan percikan-percikan sinar.

Makna langit yang demikian itu, hamper disepakati oleh banyak orang, baik oleh pakar tafsir, astronom, fisikawan dan sebagainya. Hanya saja, yang menjadi persoalan ketika langit itu berjumlah tujuh dan berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat; apakah langit itu benar berjumlah tujuh? Ataukah tujuh hanya sebuah symbol saja dari sebuah angka  yang tak terhingga? Semuanya ini menjadi misteri.

Sebab, menurut beberapa pakar, kata tujuh bagi Allah tidak sama dengan kata tujuh dalam pengertian kita sebagai manusia, angka tujuh adalah angka setelah satu, dua, tiga, empat, lima dan enam. Jadi, hitunganya sangat jelas. Tapi, angka tujuh bagi Allah belum tentu demikian. Karena itu, tujuh langit seperti yang terungkap dalam al-Qur’an sifatnya masih perlu penjelasan lagi.

Dalam banyak hal, al-Qur’an biasanya menyebut angka tujuh untuk suatu jumlah yang  tak terhingga. Misalnya, didalamQS. Al-Baqarah, ayat 261 Allah menjanjikan, “siapa yang menafkahkan hartanya dijalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masing berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….”

Juga di dalam QS. Luqman ayat 27 yang artinya, “jika seandainya semua pohon dibumi dijadikan  sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautanlagi, maka tak akan habis kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan tujuh lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dengan QS. Taubah (9) ayat 80 yang artinya, “ Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan member ampun.” Jelas, ungkapan  “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.

Meski begitu, tetap kita harus punya patokan karena itu, angka tujuh yang berhubungan dengan langit kita tafsirkan dalm pandangan manusia . menu rut, T. Djamaludin, staf peneliti bidang matahari dan lingkungan antariksa, lapan, Bandung, dalam artikelnya Tujuh Langit, Tidak berarti tujuh lapis  menulis bahwa dikalangan mufassirin  lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris.

Menurutnya, dari segi sejarah, orang-orang dahulu jauh sebelum al-Qur’an diturunkan memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang  jaraknya berbeda. Kesimpulan ini berkaitan dengan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat gerakanya dilangit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda langit itu berada  pada lapisan langit yang berbeda-beda.

Dilangit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit kedua ditempati merkutius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada dilangit ketiga. Sedangkan matahari ada dilangit keempat. Dilangit kelima ada Mars (bintang marikh). Dilangit keenam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ketujuh ditemapti Saturnus (bintang siarah/Zulha). Itu keyakinan lama yang mengangap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ketujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan dibumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (Hari saturnus) dalam bahasa inggris atau doyoubi (Hari saturnus/Dosei) dalam bahsa jepang. Dalam bahasa Indonesia, Saturday adalah sabtu. Ternyata, kalau kta menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 januari tahin 1 memang jatuh pada hari sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi  Hari Matahari (Sunday, ahad), Hari bulan (Monday,Senin), Hari Mars (slasa), hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pecan menjadi tujuh hari.

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan satu, dua, tiga,..sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan minggu baerasal dari bahasa Portugis, Dominggo  yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yessus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “minggu”.

Petunjuk Isra Mi’raj

dalam peristiwa isra mi’raj disebutkan bahwa Nabi melakukan perjalanan hingga kelangit tujuh. Dilangit pertama Ia bertemu dengan Nabi Adam yang dikananya berjejer para ruh surge dan dikirinya para ruh ahli neraka. Dilangit kedua dijumpai Nabi Ia dan Nabi Yahya. Dilangit ketiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai dilangit ke Empat. Lalu Nabi SAW. Bertemu dengan Nabi Harun dilangit kelima, Nabi Musa dilangit keenam dan Nabi Ibrahim dilangit ketujuh. Dilangit ketujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 Malaikat shalat tiap harinya setiap Malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Dan keterangan diatas tampak bahwa tujuh langit itu memang ada. Tetapi, apakah tujuh langit yang dimaksud itu tujuh langit yang bentuknya sama. Jika dari bumi kita bias melihat langit yang pertama, apakah langit kedua sampai ketujuh juga bentuknya seperti itu.

Menurut Muhammad Al-Banna dari Mesir dan beberapa ahli  tafsir, bahwa sidratul muntaha yang merupakan langit tertinggi itu merupakan Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainya, seperti Muhammad Rasid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah langit ghaib.

Masalah langit ghaib ini bias dibuktikan. Misalnya, pertemuan Nabi Muhammad saw. Dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai disurga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para Malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah Isra’ mi;\’raj itu memang bukan langit lahiriyah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Lagi-lagi, penafsiran tujuh langit yang demikian tetap masih menyimpan sebuah misteri. Sebab, ada juga yang berpendapat bahwa tujuh lapis langit itu adalah atmosfir bumi. Menurut pakar, atmosfir tediri dari tujuh lapisan, yang masing-masing memiliki sifat fisik yang berbeda baik tekanan dan jenis gas yang di kandungnya.

Lapisan terdekat dengan bumi disebut troposphere (1). Lapisan ini berisi kira-kira 90% total massa dari seluruh atmosfir. Lapisan diatasnya disebut stratosphere (2). Di atasnya lagi ada lapisan ozonosphere (3), yang tugasnya menyerap radiasi sinar ultraviolet. Berikutnya berturut-turut ada lapisan mesosphere (4), thermosphere (5), ionosphere (6) dan exosphere (7), yang merupakan lapisan atmosfir terluar.

Apakah atmosfir-atmosfir ini merupakan tujuh langit? Tidak tentu juga. Sebab, ada juga yang menggunakan teori dimensi untuk melukiskan tujuh langit. Menurut teori dimensi, langit pertama adalah langit dunia yang diisi oleh manusia, hewan, tumbuhan, binatang, planet, galaksi, supercluster dan lainsebagainya. Langit ini berdimensi 3.

Langit kedua dihuni oleh bangsa jin, yang memiliki dimensi 4. Alamnya sebenarnya berdampingan dengan kita, tetapi tidak bersentuhan, karena dimensinya berbeda. Langit ketiga sampai keenam, berturut-turut adalah berdimensi 5, 6, 7, dan 8. Semua langit itu digunakan dalam masa penantian oleh jiwa0jiwa yang telah mati, selama di alam barzakh. Langit ketujuh adalah langit tertinggi, yang berdimensi 9. Dilangit inilah terdapat surga dan neraka.

Jadi, apa pun penafsiran kita tentangtujuh langit, hasilnya tetapi menyisakan sebuah misteri. Sebab, teknolgi yang kita pakai untuk menyisakan sebuah misteri. Sebab, teknologi yang kita pakai untuk menyelidiki tujuh langit itu adalah teknologi yang masih sangat rendah. Sementara, Nabi Muhammad saw. Sebagai sosok yang “paling bisa” memecahkan misteri tujuh langit ini, tidak pernah memberikan penjelasan kepada umatnya mengenai makna tujuh langit yang sebenarnya.

Jika misteri tujuh langit ini bisa terpecahkan, maka kita harus bisa seperti Nabi, yaitu melakukan perjalanan hingga kelangit ketujuh. Persoalanya, kita pasti tidak bisa. Karena itu, kita pun tidak akan bisa memecahkan persoalan misteri tujuh langit ini. Wallahu a’lam bil shawab!

Sumber : Majalah Hidayah Edisi 106

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa tinggalkan komentarnya ya